Langsung ke konten utama

PENERAPAN METODE STIMULUS - RESPONSE LEARNING DALAM MENINGKATKAN MINAT MENGHAFAL AL-QUR’AN DI MASJID MIFTAHUS SA’ADAH ( Studi Terhadap Anak-Anak Di RT 31/RW 009 Desa Maracang,Kecamatan Babakan Cikao Kabupaten Purwakarta )

abstrak

Stimulus-response learning, merupakan proses belajar menggunakan trial and eror (mencoba-coba) yang mana proses belajar ini merupakan proses yang inovatif dan kreatif, yang dimana dengan metode ini peserta didik diharapkan bisa terstimulus dengan berbagai metode yang di sampaikan oleh pendidik ketika mengajar. Al Qur’an sendiri di turunkan pada masa dimana umat manusia mengalami gejolak tentang buta huruf, akan tetapi hafalan orang-orang pada masa itu sangat kuat. Sedikit perlu di jelaskan bahwasan-Nya umat manusia pada Zaman kenabian lebih banyak menghafalnya, ketimbang membukukan/kodifikasi. Dan ketika dimasa kenabian Nabi Muhammad, menganjurkan ketika ayat ayat itu turun untuk supaya di hafal dan menuliskan di berbagai pelepah kurma dan bebatuan. Tujuan dari penelitian ini yaitu Untuk mengetahui Bagaimana penerapan metode stimulus respones learning, kekurangan dan kelebihan, serta faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan metode stimulus respones learning di Masjid Miftahus Sa’adah. Metodelogi penelitian yang digunakan penulis adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan kualitatif yang bersifat interpretative (menggunakan penafsiran ) yang melibatkan banyak metode dalam menelaah masalah penelitian dilapangan. Dapat dikemukakan temuan penelitian. Pertama; Untuk kelebihan dari metode stimulus respons learning kiranya adanya alat peraga sehingga anak- anak senang dan dalam membacanya pun kompak dengan irama yang sama. Sedangkan kekurangannya apabila anak sering tidak hadir atau tidak masuk mengaji maka pemahaman anak akan tertinggal karena setiap pertemuan itu ada penanaman konsep baru. Kedua Faktor pendukungnya selain sarana prasarana pembelajaran yang cukup mendukung juga adanya guru yang kompeten di bidang hafalan. Sedangkan faktor penghambatnya tidak ada guru penggantinya lagi, karena baru ada satu guru sajah yang baru mau mengajar. Ketiga : kegiatan pembelajaran. walaupun belum maksimal tapi alhamdulillah sudah berjalan cukup baik karena dengan adanya ustad sodiq sendiri pembelajaran bisa berjalan dengan lancar.

Kata Kunci : Metode, Stimulus-response learning, Minat

A.    Pendahuluan

Stimulus-response learning, merupakan proses belajar menggunakan trial and eror (mencoba-coba) yang mana proses belajar ini merupakan proses yang inovatif dan kreatif, yang dimana dengan metode ini peserta didik diharapkan bisa terstimulus dengan berbagai metode yang di sampaikan oleh pendidik dalam prosesi pembelajaran berlangsung.

Al-Quran sendiri merupakan kitab satu-satunya yang tidak pernah usang oleh zaman yang dimana merupakan kitab suci yang diwahyukan dari malaikat jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan keautentikannya hingga sampai saat ini dijaga oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam QS. Al Hijr ayat 9 :

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْ

Artinya :“sesungguhnya kamilah yang menurunkan adz-dikr ( Al-Qur’an ) dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.

 

Al Qur’an di turunkan pada masa dimana umat manusia mengalami gejolak tentang buta huruf, akan tetapi hafalan orang-orang pada masa itu sangat kuat. Sedikit perlu di jelaskan bahwasan-Nya umat manusia pada Zaman kenabian lebih banyak menghafalnya, ketimbang membukukan/kodifikasi. Dan ketika dimasa kenabian Nabi Muhammad, menganjurkan ketika ayat ayat itu turun untuk supaya di hafal dan menuliskan di berbagai pelepah kurma dan bebatuan.

Di dalam Al-Qur’an juga terdapat anjuran untuk mendalaminya, sebagaimana firman Allah SWT QS. Fathir ayat 29-30 dan QS.Al Mujadalah ayat 11 :

 إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُور َلِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Artinya : “sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah ( Al-Qur’an ) dan melaksanakan sholat dan menginfakan sebagian rezeki yang kami anugrahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh Allah maha pengampun, maha mensyukuri”.

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ

Artinya : Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

Berdasarkan uraian Latar belakang permasalahan diatas, penulis mengidentifikasi beberapa permasalahan yang dikemukakan dalam bentuk pertanyaan guna memudahkan prosesi penelitian. Selain itu, penulis juga membatasi ruang lingkup penelitian yang ada di daerah Maracang ini, agar bisa fokus terhadap Masjid miftahus sa’adah. dan identifikasi yang didapatkan diantaranya, yaitu : (1) Peserta didik banyak bercanda ketika proses pembelajaran,  (2) Disaat proses pembelajaran peserta didik kurang begitu aktif, (3) Kurangnya pengetahuan orang tua tentang bagaimana cara menerapkan metode menghafal Al-Qur’an. Adapun fakta yang Berdasarkan hasil observasi dilapangan, Dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di Masjid Miftahus sa’adah adalah dengan menggunakan metode stimulus respons learning, yaitu proses pembelajaran yang menggunakan trial and eror (mencoba-coba) yang mana proses belajar ini merupakan proses yang inovatif dan kreatif, yang dimana dengan metode ini peserta didik diharapkan bisa terstimulus dengan berbagai metode yang di sampaikan dalam pembelajaran ketika mengajarn dengan tujuan peserta didik tersebut dalam pembelajaran materi yang disampaikan mudah dipahami.

Berdasarkan hasil wawancara dengan ustad sodiq selaku pengajar, beliau mengatakan:

“Pada dasarnya metode stimulus respons learning ini sudah tak asing di telinga kita, karena metode ini merupakan metode dasar dalam semua bidang motivasi disaat belajar dan mungkin saya selaku pendidik ingin mengunakan metode ini di masjid miftahus sa’adah yang terletak di desa Maracang. Adapun metode ini hampir satu tahun sudah berjalan.di masjid miftahus sa’adah”.[1]

 

Adapun tujuan penelitian ini tiada lain : (1). Untuk mengetahui Bagaimana penerapan metode stimulus respones learning untuk meningkatkan minat menghafal Al Qur’an di Masjid Miftahus Sa’adah?, (2). Untuk mengetahui Apa saja faktor pendukung dan penghambat anak-anak di Masjid Miftahus Sa’adah dalam menghafal Al-Qur’an.?, (3) Untuk mengetahui Apa saja kelebihan dan kekurangan dari metode stimulus respons learning dalam meningkatkan minat menghafal Al-Qur’an di Masjid Miftahus Sa’adah?

Dari uraian tujuan diatas kiranya penulis merumuskan beberapa maslaah yang terjadi di masjid miftahus sa’adah diantaranya, (1) Bagaimana penerapan metode stimulus respones learning untuk meningkatkan minat menghafal Al Qur’an di Masjid Miftahus Sa’adah?, (2). Apa saja faktor pendukung dan penghambat anak-anak di Masjid Miftahus Sa’adah dalam menghafal Al-Qur’an? (3) Apa saja kelebihan dan kekurangan dari metode stimulus respons learning dalam meningkatkan minat menghafal Al-Qur’an di Masjid Miftahus Sa’adah?.

Metodelogi penelitian yang digunakan penulis adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan kualitatif yang bersifat interpretative (menggunakan penafsiran ) yang melibatkan banyak metode dalam menelaah masalah penelitian dilapangan.

B.     Teori / Konsep

Stimulus-response learning, merupakan proses belajar menggunakan trial and eror (mencoba-coba) yang mana proses belajar ini merupakan proses yang inovatif dan kreatif, yang dimana dengan metode ini peserta didik diharapkan bisa terstimulus dengan berbagai metode yang di sampaikan dalam pembelajaran ketika mengajar.

1.    Penerapan

Penerapan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu perbuatan menerapkan, sedangkan menurut beberapa ahli, penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan yang telah terencana dan tersusun sebelumnya.

Usman (2002), penerapan (implementasi) adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu sistem.Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kata penerapan (implementasi) bermuara pada aktifitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu system. Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa penerapan (implementasi) bukan sekedar aktifitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan.

2.    Metode

Secara etimologis metode berasal dari bahasa Yunani methodos  tersusun dari kata meta dan hodos. Meta berarti menuju, melalui, mengikuti, atau sesudah. Hodos berarti jalan, cara, atau arah. Kata tersebut kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi kata “method” yang berarti suatu bentuk prosedur tertentu untuk mencapai atau mendekati suatu tujuan, terutama cara yang sistematis.

Dari penjelasan diatas, dapat di simpulkan bahwa pengertian metode merupakan suatu cara atau proses sistematis yang digunakan untuk melakukan suatu kegiatan agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Dengan kata lain, metode dapat berfungsi sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan, atau bagaimana cara untuk melakukan dan membuat sesuatu.

3.    stimulus respons

Stimulus - response merupakan model komunikasi paling dasar. Teori ini dipengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik. Model tersebut menggambarkan hubungan stimulus-response”(Mulyana, 2005).

Stimulus             Response

Teori ini menunjukkan komunikasi sebagai proses aksi-reaksi yang sangat sederhana. Jika seorang lelaki berkedip kepada perempuan, dan perempuan itu kemudian tersipu malu, atau bila saya tersenyum dan kemudian anda membalas senyum saya, itulah yang dikatakan sebagai pola S – R.

Elemen utama dari stimulus respons diantarnta:

•   Pesan (Stimulus)

•   Penerima (Objek)  

•   Efek (Respons)

Dalam peroses perubahan sikap tampak bahwa sikap seseorang dapat berubah, hanya jika stimulus yang menerpa dengan benar-benar terhadap penerima/komunikan. Prof. Dr. Ma’rat dalam bukunya “Sikap Manusia, Perubahan serta pengukurannya”. ‘Mengutip pendapat Hovlan, Janis, dan Kelley yang mengatakan bahwa dalam menelaah sikap yang baru ada tiga variable penting yang perlu diketahui diantaranya yaitu :

•   Perhatian

•   Pengertian

•   Penerimaan

Jadi asumsi dasar dari teori stimulus response (Onong Uchjana Effendy, 2007) adalah segala bentuk pesan yang disampaikan baik verbal maupun non verbal yang dapat menimbulkan response. Jika kualitas ransangan stimulus yang diberikan baik akan sangat besar mempengaruhi respon yang ditimbulkan. Individu dalam komunikasi tersebut mempengaruhi munculnya respon juga.

 

C.    Hasil Penelitian dan Pembahasan

Penerapan metode stimulus respons learning terhadap menghafal Al-Qur’an kiranya sangat bagus terhadap perkembangan dan kemampuan peserta didik dalam pembelajaran Al-Qur’an. Secara garis besar metode ini bisa berhasil disaat responden fokus terhadap komunikan ketika menyampaikan materi yang di sampaikan.

Pemberian stimulus yang tepat oleh guru dapat meminimalisir terjadinya  hal  tersebut,  sehingga  proses  belajar  dapat  berjalan  dengan lancar  dan  tujuan  pembelajaran  dapat  tercapai.  Adapun stimulus yang dapat  diberikan  oleh  Pendidik  di  Masjid Miftahus sa’adah adalah sebagai berikut :

a)    Penggunaan variasi metode mengajar, materi, dan buku penunjang

Penggunaan variasi metode dan strategi belajar melalui media, teknik bermain, materi, dan buku  penunjang  sangat  mempengaruhi  cara  belajar.

b)   Pemberian Nilai

Pemberian nilai dalam hal ini  merupakan  simbol  dari  kegiatan belajar. Angka-angka yang baik bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat.  Namun para guru haruslah mengetahui bahwa pemaparan angka-angka seperti  itu  belum  merupakan  hasil  belajar  yang  sejati,  hasil belajar  yang  bermakna,  langkah  yang  dilakukan  oleh  guru  adalah  guru memberi angka.

c)    Pemberian pujian atau penghargaan

Pujian merupakan bagian dari reinforcement Positif yang dapat meningkatkan frekuensi respon siswa dalam kegiatan belajar. Guru menggunakan pujian untuk menumbuhkan rasa siswa tentang “harga diri, otonomi, kemandirian prestasi dan minat untuk belajar”.  Pujian sering diberikan pada akhir tugas untuk pekerjaan yang dianggap “baik dilakukan”. Pujian adalah strategi yang bertujuan untuk mendorong para siswa untuk memantau makna dan mengoreksi diri.

Factor pendukung dan penghambat dalam meningkatkan Minat Menghafal Al-Qur’an di Masjid Miftahus sa’adah yaitu Faktor pendukung adanya dukungan dari orang tua peserta didik serta adanya kemauan peserta didik dalam proses pembelajaran disaat penyampaian materi hafalan Al-Qur’an. Juga didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai. Sedangkan faktor penghambatnya, kiranya belum semua peserta didik hadir semua dalam proses pembelajaran, jadi ada yang bisa dan belum bisa untuk menghafal dan tidak ada guru penggantinya lagi, karena baru ada satu guru sajah yang baru mau mengajar .

Faktor-Faktor Yang Menghambat pemberian Metode Stimulus – Response Learning dalam Meningkatkan Minat Menghafal Al Qur’an di Masjid Miftahus sa’adah

a)      Faktor internal peserta didik 

Keadaan-keadaan umum dalam  diri  peserta didik menyebabkan pemberian stimulus  pendidik  terhambat,  sehingga  menyebabkan  tidak  adanya  respon yang  diharapkan  ketika  kegiatan  belajar  mengajar  berlangsung.  Faktor internal siswa meliputi gangguan atau kekurang mampuan psikofisik siswa yakni:

1)      Bersifat kognitif seperti  rendahnya  kapasitas  intelektual  siswa  atau intelegensi siswa.

2)      Bersifat Afektif seperti labilnya emosi dan sikap siswa.

3)      Bersifat psikomotor seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengaran

b)      Faktor eksternal siswa

Faktor yang ada di luar diri siswa dapat mempengaruhi tersampainya stimulus atau tidak, seperti keadaan lingkungan, pergaulan dengan teman sebaya dan lain-lain.  Faktor eksternal yang menghambat stimulus dan respon antara lain:

1)      Lingkungan sosial siswa lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluargasiswa itu sendiri.  Sifat-sifat orang tua, ketegangan keluarga semua dapat memberi dampak terhadap kegiatan belajar dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.

2)      Waktu pelajaran Bahasa Arab yaitu jam ke empat atau jam terakhir di siang hari dapat mempengaruhi minat belajar siswa dan berpengaruh terhadap prestasi belajar, sehingga pada waktu tersebut siswa mudah lelah dan mengantuk setelah menerima pelajaran sebelumnya.

3)      Keadaan kelas yang berada di bagian belakang menyebabkan kelas kurang pencahayaan sehingga siswa menjadi cepat jenuh dan mengantuk ketika pembelajaran berlangsung.

 

Kelebihan dari metode stimulus respon learning diantaranya mudah menyenangkan sehingga anak-anak lebih cepat dalam belajar menghafal Al Qur’an dan dapat belajar Al-Qur’an dengan baik sedangkan kekurangannya yang tingkat kehadirannya kurang, otomatis pemahaman pengetahuan nya kurang, dan peserta didik hanya fokus terhadap penyampaian yang di berikan oleh pendidik.

Respon merupakan hasil dari pemberian stimulus, pada prosesnya didahului sikap seseorang, karena sikap merupakan kecenderungan atau kesediaan seseorang untuk bertingkah laku jika ia menghadapi suatu stimulus tertentu.

Adapun respon yang ditunjukkan oleh peserta didik dalam pembelajaran Menghafal Al Qur’an di Masjid Miftahus Sa’adah adalah sebagai berikut :

1.    Respon Perseptual

Persepsi merupakan  suatu  proses  pengamatan  terhadap  suatu objek yang menyangkut tanggapan mengenai kebenaran langsung, keyakinan terhadap objek tertentu Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli  indrawi  yaitu  penglihatan,  pendengaran,  peraba,  dan  penciuman.

Pada kenyataannya sebagian besar tingkah laku ditentukan oleh persepsinya. Dalam pembelajaran menghafal Al Qur’an, peserta didik sangat memperhatikan persepsi atau pemahaman materi siswa dari segi pemikiran atau aspek kognitif, sikap atau  aspek  afektif,  serta  bagaimana  siswa bertindak atau aspek psikomotor. 

Sebagian besar siswa menunjukkan persepsi yang cukup baik, hal ini  dapat  dilihat  dari  kinerja siswa  apabila  ditugaskan  untuk  memahami  wacana  yang  disampaikan guru. Sebagian besar siswa mampu menghafal dengan baik.

2.    Respon Emosional

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi bisa menjadi motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intsional manusia. Respon emosional yang ditunjukkan oleh peserta didik ketika menerima pelajaran berupa perubahan perilaku dari suasana belajar yang sebelumnya ribut menjadi tenang dan diam karena didasari rasa kecintaan dan fokus menghafal.

3.      Respon Behavioristik (tingkah laku)

Hasil akhir dari proses pembelajaran terlihat dalam perubahan perilaku, untuk mengetahui hal tersebut perlu dilakukan penjajakan perilaku peserta  didik  saat  mereka  akan  masuk  dalam  kegiatan  belajar  mengajar.

Dengan demikian akan dapat terlihat perubahan yang terjadi setelah proses belajar yang dilalui peserta didik. Cara Untuk mengetahui perubahan tingkah laku peserta didik, peneliti terlebih dahulu melihat proses pendidil melakukan tes sebelum mereka mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar. Tes tersebut berupa materi yang pernah dipelajari di pertemuan sebelumnya, seperti mengetes hafalan sambung ayat.

Apabila peserta didik menunjukkan sikap berupa pemahaman apa yang dibacakannya, maka pendidik akan memulai materi selanjutnya. Namun apabila peserta didik menunjukkan tingkah laku berupa penolakan disebabkan oleh ketidakpahaman terhadap materi ajar sebelumnya, maka  akan menjelaskan terlebih dahulu sebelum memulai pelajaran selanjutnya.

 

D.    Penutup

Pertama; Untuk kelebihan dari metode stimulus respons learning kiranya adanya alat peraga sehingga anak- anak senang dan dalam membacanya pun kompak dengan irama yang sama. Sedangkan kekurangannya apabila anak sering tidak hadir atau tidak masuk mengaji maka pemahaman anak akan tertinggal karena setiap pertemuan itu ada penanaman konsep baru. Kedua Faktor pendukungnya selain sarana prasarana pembelajaran yang cukup mendukung juga adanya guru yang kompeten di bidang hafalan. Sedangkan faktor penghambatnya tidak ada guru penggantinya lagi, karena baru ada satu guru sajah yang baru mau mengajar. Ketiga : kegiatan pembelajaran. walaupun belum maksimal tapi alhamdulillah sudah berjalan cukup baik karena dengan adanya ustad sodiq sendiri pembelajaran bisa berjalan dengan lancar.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abidi, M. N. (n.d.). ruang lingkup pendidikan islam. https://pangangson.wordpress.com/2017/09/14/ruang-lingkup-pendidikan-islam/

Amrulloh, A. (2015). “Hadis Sebagai Sumber Hukum Islam: Studi Metode Komparasi- Konfrontatif Hadis-Al-Qur‟an Perspektif Muhammad Al-Ghazali dan Yusuf al- Qaradawi,.” Ahkam: Jurnal Hukum Islam 3, 2, 287–310.

Bimo Walgito. (2002). Pengantar Psikologi Umum, Andi.

definisi dan ruang lingkup ajaran islam. (n.d.). http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/6968/3/BAB II.pdf

H.Lili. (2020). wawancara sekdes.

Marzuki. (2009). Prinsip Dasar Akhlak Mulia. Debut Wahana Press dan Fise UNY.

Mayssara A. Abo Hassanin Supervised, A. (2014). 済無No Title No Title No Title. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, 7–25.

Mudjia Rahardjo. (n.d.). Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif. https://www.uin-malang.ac.id/r/101001/triangulasi-dalam-penelitian-kualitatif.html.

Muhibbin Syah. (1995). Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. (2005). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya.

Onong Uchjana Effendy. (2007). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. PT.Citra Aditya.

Onong Uchjana Effendy. (2011). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. PT. Remaja Rosdakarya.

Raymond J. Corsini. (1999). Encyclopedia Of Psychology (Kanada). empat, 40.

Rohim, N. (2013). Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Kitab al-Arba‟in an-Nawawi.

Sugiono. (2017). Prosedur Penelitian Kombinasi. Keperawatan, 11.

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Sukardi. (2012). Metodelogi Penelitian Pendidikan kompetensi dan praktiknya. PT Bumi Aksara.

Zainal Asril. (2012). MICRO TEACHING Disertasi dengan pedoman pengalaman lapangan. PT Raja Grafindo Persada.

Zubaidi. (2015). Akhlak dan tasawuf. Lingkar Media.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepemimpinan Tronjal - Tronjol

Dalam kehidupan sehari – hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita mendengar sebutan Pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya. Beberapa ahli berpandangan tentang Pemimpin, beberapa di antaranya : 1) Menurut Drs. H. Malayu SP Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dalam mencapai tujuan. 2) Menurut Robert Tanembaum, Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasikan demi mencapai tujuan perusahaan. 3) Menurut Prof. Maccoby, Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima ...

Pemilih pemula sudah seperti buih di lautan

Berbicara terkait kepemiluan atau pemilihan  parlemen-parlemen negara merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat, yang dimana masyarakat dapat memilih pemimpin secara langsung. Perlu di garis bawahi bahwasanya yang dimaksud dengan pemimpin disini ialah wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat (parlemen) baik ditingkat pusat maupun daerah dan pemimpin lembaga eksekutif atau kepala pemerintahan seperti presiden, gubernur, atau bupati/walikota. Pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali akan melakukan penggunaan hak pilihnya. Pemilih pemula terdiri dari masyarakat yang telah memenuhi syarat untuk memilih.  Pentingnya peranan pemilih pemula karena sebanyak 20% dari seluruh pemilih adalah pemilih pemula, dengan demikian jumlah pemilih pemula sangatlah besar, sehingga hak warga negara dalam menggunakan hak pilihnya janganlah sampai tidak berarti akibat dari kesalahan-kesalahan yang tidak diharapkan, misalnya jangan sampai sudah memiliki hak pilih tida...