PENERAPAN METODE STIMULUS - RESPONSE LEARNING DALAM MENINGKATKAN MINAT MENGHAFAL AL-QUR’AN DI MASJID MIFTAHUS SA’ADAH ( Studi Terhadap Anak-Anak Di RT 31/RW 009 Desa Maracang,Kecamatan Babakan Cikao Kabupaten Purwakarta )
abstrak
Stimulus-response learning, merupakan proses belajar menggunakan trial and eror (mencoba-coba) yang mana proses belajar ini merupakan proses yang inovatif dan kreatif, yang dimana dengan metode ini peserta didik diharapkan bisa terstimulus dengan berbagai metode yang di sampaikan oleh pendidik ketika mengajar. Al Qur’an sendiri di turunkan pada masa dimana umat manusia mengalami gejolak tentang buta huruf, akan tetapi hafalan orang-orang pada masa itu sangat kuat. Sedikit perlu di jelaskan bahwasan-Nya umat manusia pada Zaman kenabian lebih banyak menghafalnya, ketimbang membukukan/kodifikasi. Dan ketika dimasa kenabian Nabi Muhammad, menganjurkan ketika ayat ayat itu turun untuk supaya di hafal dan menuliskan di berbagai pelepah kurma dan bebatuan. Tujuan dari penelitian ini yaitu Untuk mengetahui Bagaimana penerapan metode stimulus respones learning, kekurangan dan kelebihan, serta faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan metode stimulus respones learning di Masjid Miftahus Sa’adah. Metodelogi penelitian yang digunakan penulis adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan kualitatif yang bersifat interpretative (menggunakan penafsiran ) yang melibatkan banyak metode dalam menelaah masalah penelitian dilapangan. Dapat dikemukakan temuan penelitian. Pertama; Untuk kelebihan dari metode stimulus respons learning kiranya adanya alat peraga sehingga anak- anak senang dan dalam membacanya pun kompak dengan irama yang sama. Sedangkan kekurangannya apabila anak sering tidak hadir atau tidak masuk mengaji maka pemahaman anak akan tertinggal karena setiap pertemuan itu ada penanaman konsep baru. Kedua Faktor pendukungnya selain sarana prasarana pembelajaran yang cukup mendukung juga adanya guru yang kompeten di bidang hafalan. Sedangkan faktor penghambatnya tidak ada guru penggantinya lagi, karena baru ada satu guru sajah yang baru mau mengajar. Ketiga : kegiatan pembelajaran. walaupun belum maksimal tapi alhamdulillah sudah berjalan cukup baik karena dengan adanya ustad sodiq sendiri pembelajaran bisa berjalan dengan lancar.
Kata Kunci : Metode,
Stimulus-response
learning,
Minat
A.
Pendahuluan
Stimulus-response
learning, merupakan proses belajar menggunakan trial and eror (mencoba-coba) yang mana
proses belajar ini merupakan proses yang inovatif dan kreatif, yang dimana dengan
metode ini peserta didik diharapkan bisa terstimulus dengan berbagai metode
yang di sampaikan oleh pendidik dalam prosesi pembelajaran berlangsung.
Al-Quran sendiri merupakan kitab
satu-satunya yang tidak pernah usang oleh zaman yang dimana merupakan kitab
suci “yang diwahyukan dari malaikat jibril
kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan
keautentikannya hingga sampai saat ini dijaga oleh Allah SWT. Sebagaimana
firman Allah SWT
di dalam QS. Al Hijr ayat 9 :
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْ
Artinya :“sesungguhnya
kamilah yang menurunkan adz-dikr ( Al-Qur’an ) dan sesungguhnya kami
benar-benar memeliharanya.
Al Qur’an di turunkan pada masa
dimana umat manusia mengalami gejolak tentang buta huruf, akan tetapi hafalan
orang-orang pada masa itu sangat kuat. Sedikit perlu di jelaskan bahwasan-Nya
umat manusia pada Zaman kenabian lebih banyak menghafalnya, ketimbang
membukukan/kodifikasi. Dan ketika dimasa kenabian Nabi Muhammad, menganjurkan
ketika ayat ayat itu turun untuk supaya di hafal dan menuliskan di berbagai
pelepah kurma dan bebatuan.
Di dalam
Al-Qur’an juga terdapat anjuran untuk mendalaminya, sebagaimana firman Allah
SWT QS. Fathir
ayat 29-30 dan
QS.Al Mujadalah ayat 11 :
إِنَّ
الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُور َلِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ
فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
Artinya : “sesungguhnya orang-orang yang selalu
membaca kitab Allah ( Al-Qur’an ) dan melaksanakan sholat dan menginfakan
sebagian rezeki yang kami anugrahkan kepadanya dengan diam-diam dan
terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan
pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh Allah maha pengampun,
maha mensyukuri”.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ
لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ
وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ
خَبِيرٞ
Artinya : Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Berdasarkan uraian
Latar belakang permasalahan diatas, penulis mengidentifikasi beberapa
permasalahan yang dikemukakan dalam bentuk pertanyaan guna memudahkan prosesi
penelitian. Selain itu, penulis juga membatasi ruang lingkup penelitian yang
ada di daerah Maracang ini, agar bisa fokus terhadap Masjid miftahus sa’adah.
dan identifikasi yang didapatkan diantaranya, yaitu : (1) Peserta didik banyak bercanda ketika proses pembelajaran, (2)
Disaat proses pembelajaran peserta didik kurang begitu aktif, (3) Kurangnya
pengetahuan orang tua tentang bagaimana cara menerapkan metode menghafal Al-Qur’an.
Adapun fakta yang Berdasarkan hasil observasi dilapangan, Dalam proses pembelajaran
yang dilaksanakan di Masjid Miftahus sa’adah adalah dengan menggunakan metode
stimulus respons learning, yaitu proses pembelajaran yang menggunakan trial and
eror (mencoba-coba) yang mana proses belajar ini merupakan proses yang inovatif
dan kreatif, yang dimana dengan metode ini peserta didik diharapkan bisa
terstimulus dengan berbagai metode yang di sampaikan dalam pembelajaran ketika
mengajarn dengan tujuan peserta didik tersebut dalam pembelajaran materi yang
disampaikan mudah dipahami.
Berdasarkan
hasil wawancara dengan ustad sodiq selaku pengajar, beliau mengatakan:
“Pada dasarnya metode stimulus
respons learning ini sudah tak asing di telinga kita, karena metode ini
merupakan metode dasar dalam semua bidang motivasi disaat belajar dan mungkin
saya selaku pendidik ingin mengunakan metode ini di masjid miftahus sa’adah
yang terletak di desa Maracang. Adapun metode ini hampir satu tahun sudah
berjalan.di masjid miftahus sa’adah”.[1]
Adapun tujuan penelitian ini tiada lain : (1). Untuk mengetahui Bagaimana penerapan
metode stimulus respones learning
untuk meningkatkan minat menghafal Al Qur’an di Masjid Miftahus Sa’adah?, (2). Untuk mengetahui Apa
saja faktor pendukung dan penghambat anak-anak di Masjid Miftahus Sa’adah dalam
menghafal Al-Qur’an.?, (3) Untuk mengetahui Apa saja kelebihan
dan kekurangan dari metode stimulus
respons learning dalam
meningkatkan minat menghafal Al-Qur’an di Masjid Miftahus Sa’adah?
Dari uraian tujuan diatas kiranya penulis merumuskan beberapa maslaah
yang terjadi di masjid miftahus sa’adah diantaranya, (1) Bagaimana penerapan
metode stimulus respones learning
untuk meningkatkan minat menghafal Al Qur’an di Masjid Miftahus Sa’adah?, (2). Apa saja faktor pendukung dan penghambat anak-anak di Masjid Miftahus
Sa’adah dalam menghafal Al-Qur’an? (3) Apa saja kelebihan dan kekurangan dari
metode stimulus respons learning dalam meningkatkan minat menghafal Al-Qur’an
di Masjid Miftahus Sa’adah?.
Metodelogi
penelitian yang digunakan penulis adalah kualitatif dengan metode deskriptif.
Pendekatan kualitatif yang bersifat interpretative (menggunakan penafsiran )
yang melibatkan banyak metode dalam menelaah masalah penelitian dilapangan.
B.
Teori
/ Konsep
Stimulus-response learning, merupakan proses belajar
menggunakan trial and eror (mencoba-coba) yang mana proses belajar ini
merupakan proses yang inovatif dan kreatif, yang dimana dengan metode ini
peserta didik diharapkan bisa terstimulus dengan berbagai metode yang di
sampaikan dalam pembelajaran ketika mengajar.
1. Penerapan
Penerapan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) yaitu perbuatan menerapkan, sedangkan menurut beberapa ahli, penerapan
adalah suatu perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan hal lain untuk
mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang diinginkan oleh suatu
kelompok atau golongan yang telah terencana dan tersusun sebelumnya”.
Usman (2002), “penerapan
(implementasi) adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya
mekanisme suatu sistem.Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan
yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan”.
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut “dapat disimpulkan bahwa kata penerapan
(implementasi) bermuara pada “aktifitas,
adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu system. Ungkapan mekanisme
mengandung arti bahwa penerapan (implementasi) bukan sekedar aktifitas, tetapi
suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan
acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan”.
2. Metode
Secara etimologis metode berasal dari bahasa Yunani methodos
tersusun dari kata meta dan hodos. Meta berarti menuju, melalui,
mengikuti, atau sesudah. Hodos berarti jalan, cara, atau arah. Kata tersebut
kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi kata “method” yang berarti suatu
bentuk prosedur tertentu untuk mencapai atau mendekati suatu tujuan, terutama
cara yang sistematis.
Dari penjelasan diatas, dapat di simpulkan
bahwa pengertian metode merupakan suatu cara atau proses sistematis yang
digunakan untuk melakukan suatu kegiatan agar tujuan yang diinginkan dapat
tercapai. Dengan kata lain, metode dapat berfungsi sebagai alat untuk mencapai
suatu tujuan, atau bagaimana cara untuk melakukan dan membuat sesuatu.
3. stimulus
respons
Stimulus - response merupakan model komunikasi paling dasar.
Teori ini dipengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik. Model tersebut
menggambarkan hubungan stimulus-response”(Mulyana, 2005).
Stimulus Response
Teori ini menunjukkan komunikasi sebagai
proses aksi-reaksi yang sangat sederhana. Jika seorang lelaki berkedip kepada
perempuan, dan perempuan itu kemudian tersipu malu, atau bila saya tersenyum
dan kemudian anda membalas senyum saya, itulah yang dikatakan sebagai pola S –
R.
Elemen utama dari stimulus respons diantarnta:
• Pesan (Stimulus)
• Penerima (Objek)
• Efek (Respons)
Dalam peroses perubahan sikap tampak bahwa
sikap seseorang dapat berubah, hanya jika stimulus
yang menerpa dengan benar-benar terhadap penerima/komunikan. Prof. Dr. Ma’rat
dalam bukunya “Sikap Manusia, Perubahan serta pengukurannya”. ‘Mengutip
pendapat Hovlan, Janis, dan Kelley yang mengatakan bahwa dalam menelaah sikap
yang baru ada tiga variable penting yang perlu diketahui diantaranya yaitu :
• Perhatian
• Pengertian
• Penerimaan
Jadi asumsi dasar dari teori stimulus response (Onong Uchjana Effendy, 2007) adalah segala bentuk pesan yang disampaikan
baik verbal maupun non verbal yang dapat menimbulkan response. Jika kualitas ransangan stimulus yang diberikan baik akan
sangat besar mempengaruhi respon yang ditimbulkan. Individu dalam komunikasi
tersebut mempengaruhi munculnya respon juga.
C.
Hasil
Penelitian dan Pembahasan
Penerapan metode stimulus respons learning terhadap menghafal
Al-Qur’an kiranya sangat bagus terhadap perkembangan dan kemampuan peserta
didik dalam pembelajaran Al-Qur’an. Secara garis besar metode ini bisa berhasil
disaat responden fokus terhadap komunikan ketika menyampaikan materi yang di
sampaikan.
Pemberian stimulus yang tepat oleh guru dapat meminimalisir
terjadinya hal tersebut,
sehingga proses belajar
dapat berjalan dengan lancar
dan tujuan pembelajaran
dapat tercapai. Adapun stimulus yang dapat diberikan
oleh Pendidik di
Masjid Miftahus sa’adah adalah sebagai berikut :
a)
Penggunaan variasi metode mengajar, materi, dan buku penunjang
Penggunaan variasi metode dan strategi belajar melalui media,
teknik bermain, materi, dan buku
penunjang sangat mempengaruhi
cara belajar.”
b)
Pemberian Nilai
Pemberian nilai dalam hal ini
merupakan simbol dari
kegiatan belajar. Angka-angka yang baik bagi para siswa merupakan
motivasi yang sangat kuat. Namun para
guru haruslah mengetahui bahwa pemaparan angka-angka seperti itu
belum merupakan hasil
belajar yang sejati,
hasil belajar yang bermakna,
langkah yang dilakukan
oleh guru adalah
guru memberi angka.”
c)
Pemberian pujian atau penghargaan
Pujian merupakan bagian dari reinforcement Positif yang dapat
meningkatkan frekuensi respon siswa dalam kegiatan belajar. Guru menggunakan
pujian untuk menumbuhkan rasa siswa tentang “harga diri, otonomi, kemandirian prestasi
dan minat untuk belajar”. Pujian sering
diberikan pada akhir tugas untuk pekerjaan yang dianggap “baik dilakukan”.
Pujian adalah strategi yang bertujuan untuk mendorong para siswa untuk memantau
makna dan mengoreksi diri.
Factor pendukung dan penghambat dalam
meningkatkan Minat Menghafal Al-Qur’an di Masjid Miftahus sa’adah yaitu Faktor
pendukung adanya dukungan dari orang tua peserta didik serta adanya kemauan
peserta didik dalam proses pembelajaran disaat penyampaian materi hafalan
Al-Qur’an. Juga didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai.
Sedangkan faktor penghambatnya, kiranya belum semua peserta didik hadir semua
dalam proses pembelajaran, jadi ada yang bisa dan belum bisa untuk menghafal
dan tidak ada guru penggantinya lagi, karena baru ada satu guru sajah yang baru
mau mengajar .
Faktor-Faktor Yang Menghambat pemberian
Metode Stimulus – Response Learning dalam Meningkatkan Minat Menghafal Al
Qur’an di Masjid Miftahus sa’adah
a)
Faktor internal peserta didik
Keadaan-keadaan umum dalam
diri peserta didik menyebabkan
pemberian stimulus pendidik terhambat,
sehingga menyebabkan tidak
adanya respon yang diharapkan
ketika kegiatan belajar
mengajar berlangsung. Faktor internal siswa meliputi gangguan atau
kekurang mampuan psikofisik siswa yakni:
1)
Bersifat kognitif seperti
rendahnya kapasitas intelektual
siswa atau intelegensi siswa.
2)
Bersifat Afektif seperti labilnya emosi dan sikap siswa.
3)
Bersifat psikomotor seperti terganggunya alat-alat indera
penglihatan dan pendengaran
b)
Faktor eksternal siswa
Faktor yang ada di luar diri siswa dapat mempengaruhi tersampainya
stimulus atau tidak, seperti keadaan lingkungan, pergaulan dengan teman sebaya
dan lain-lain. Faktor eksternal yang
menghambat stimulus dan respon antara lain:
1)
Lingkungan sosial siswa lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar
ialah orang tua dan keluargasiswa itu sendiri.
Sifat-sifat orang tua, ketegangan keluarga semua dapat memberi dampak
terhadap kegiatan belajar dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
2)
Waktu pelajaran Bahasa Arab yaitu jam ke empat atau jam terakhir
di siang hari dapat mempengaruhi minat belajar siswa dan berpengaruh terhadap
prestasi belajar, sehingga pada waktu tersebut siswa mudah lelah dan mengantuk
setelah menerima pelajaran sebelumnya.
3)
Keadaan kelas yang berada di bagian belakang menyebabkan kelas
kurang pencahayaan sehingga siswa menjadi cepat jenuh dan mengantuk ketika
pembelajaran berlangsung.
Kelebihan dari metode stimulus respon learning diantaranya mudah
menyenangkan sehingga anak-anak lebih cepat dalam belajar menghafal Al Qur’an
dan dapat belajar Al-Qur’an dengan baik sedangkan kekurangannya yang tingkat
kehadirannya kurang, otomatis pemahaman pengetahuan nya kurang, dan peserta
didik hanya fokus terhadap penyampaian yang di berikan oleh pendidik.
Respon merupakan hasil dari pemberian stimulus, pada
prosesnya didahului sikap seseorang, karena sikap merupakan kecenderungan atau
kesediaan seseorang untuk bertingkah laku jika ia menghadapi suatu stimulus
tertentu.
Adapun respon yang ditunjukkan oleh peserta didik dalam
pembelajaran Menghafal Al Qur’an di Masjid Miftahus Sa’adah adalah sebagai
berikut :
1.
Respon Perseptual
Persepsi merupakan
suatu proses pengamatan
terhadap suatu objek yang
menyangkut tanggapan mengenai kebenaran langsung, keyakinan terhadap objek
tertentu Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli indrawi
yaitu penglihatan, pendengaran,
peraba, dan penciuman.
Pada kenyataannya sebagian besar tingkah laku ditentukan oleh
persepsinya. Dalam pembelajaran menghafal Al Qur’an, peserta didik sangat
memperhatikan persepsi atau pemahaman materi siswa dari segi pemikiran atau
aspek kognitif, sikap atau aspek afektif,
serta bagaimana siswa bertindak atau aspek psikomotor.
Sebagian besar siswa menunjukkan persepsi yang cukup baik, hal
ini dapat dilihat
dari kinerja siswa apabila
ditugaskan untuk memahami
wacana yang disampaikan guru. Sebagian besar siswa mampu
menghafal dengan baik.
2.
Respon Emosional
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran.
Jadi emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena
emosi bisa menjadi motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat
mengganggu perilaku intsional manusia. Respon emosional yang ditunjukkan oleh peserta
didik ketika menerima pelajaran berupa perubahan perilaku dari suasana belajar yang
sebelumnya ribut menjadi tenang dan diam karena didasari rasa kecintaan dan
fokus menghafal.
3.
Respon Behavioristik (tingkah laku)
Hasil akhir dari proses pembelajaran terlihat dalam perubahan
perilaku, untuk mengetahui hal tersebut perlu dilakukan penjajakan perilaku
peserta didik saat
mereka akan masuk
dalam kegiatan belajar
mengajar.
Dengan demikian akan dapat terlihat perubahan yang terjadi setelah
proses belajar yang dilalui peserta didik. Cara Untuk mengetahui perubahan
tingkah laku peserta didik, peneliti terlebih dahulu melihat proses pendidil
melakukan tes sebelum mereka mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar. Tes
tersebut berupa materi yang pernah dipelajari di pertemuan sebelumnya, seperti
mengetes hafalan sambung ayat.”
Apabila peserta didik menunjukkan sikap berupa pemahaman apa yang
dibacakannya, maka pendidik akan memulai materi selanjutnya. Namun apabila peserta
didik menunjukkan tingkah laku berupa penolakan disebabkan oleh ketidakpahaman
terhadap materi ajar sebelumnya, maka
akan menjelaskan terlebih dahulu sebelum memulai pelajaran selanjutnya.
D.
Penutup
Pertama; Untuk
kelebihan dari metode stimulus respons
learning kiranya adanya alat peraga sehingga anak- anak senang dan dalam
membacanya pun kompak dengan irama yang sama. Sedangkan kekurangannya apabila
anak sering tidak hadir atau tidak masuk mengaji maka pemahaman anak akan
tertinggal karena setiap pertemuan itu ada penanaman konsep baru. Kedua Faktor
pendukungnya selain sarana prasarana pembelajaran yang cukup mendukung juga adanya
guru yang kompeten di bidang hafalan. Sedangkan faktor penghambatnya tidak ada
guru penggantinya lagi, karena baru ada satu guru sajah yang baru mau mengajar.
Ketiga : kegiatan pembelajaran. walaupun belum maksimal tapi alhamdulillah
sudah berjalan cukup baik karena dengan adanya ustad sodiq sendiri pembelajaran
bisa berjalan dengan lancar.
DAFTAR
PUSTAKA
Abidi, M. N. (n.d.). ruang
lingkup pendidikan islam. https://pangangson.wordpress.com/2017/09/14/ruang-lingkup-pendidikan-islam/
Amrulloh, A. (2015). “Hadis
Sebagai Sumber Hukum Islam: Studi Metode Komparasi- Konfrontatif
Hadis-Al-Qur‟an Perspektif Muhammad Al-Ghazali dan Yusuf al- Qaradawi,.” Ahkam:
Jurnal Hukum Islam 3, 2, 287–310.
Bimo Walgito. (2002). Pengantar
Psikologi Umum, Andi.
definisi dan ruang lingkup
ajaran islam. (n.d.). http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/6968/3/BAB
II.pdf
H.Lili. (2020). wawancara
sekdes.
Marzuki. (2009). Prinsip
Dasar Akhlak Mulia. Debut Wahana Press dan Fise UNY.
Mayssara A. Abo Hassanin
Supervised, A. (2014). 済無No Title No Title No Title. Paper
Knowledge . Toward a Media History of Documents, 7–25.
Mudjia Rahardjo. (n.d.). Triangulasi
dalam Penelitian Kualitatif.
https://www.uin-malang.ac.id/r/101001/triangulasi-dalam-penelitian-kualitatif.html.
Muhibbin Syah. (1995). Psikologi
Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. PT Remaja Rosdakarya.
Mulyana, D. (2005). Ilmu
Komunikasi Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya.
Onong Uchjana Effendy.
(2007). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. PT.Citra Aditya.
Onong Uchjana Effendy. (2011).
Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. PT. Remaja Rosdakarya.
Raymond J. Corsini. (1999). Encyclopedia
Of Psychology (Kanada). empat, 40.
Rohim, N. (2013). Nilai-nilai
Pendidikan Islam dalam Kitab al-Arba‟in an-Nawawi.
Sugiono. (2017). Prosedur
Penelitian Kombinasi. Keperawatan, 11.
Sugiyono. (2017). Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Sukardi. (2012). Metodelogi
Penelitian Pendidikan kompetensi dan praktiknya. PT Bumi Aksara.
Zainal Asril. (2012). MICRO
TEACHING Disertasi dengan pedoman pengalaman lapangan. PT Raja Grafindo
Persada.
Zubaidi. (2015). Akhlak
dan tasawuf. Lingkar Media.
Komentar
Posting Komentar